Business
Model Program NEGERI MANDIRI dibangun sesuai
dengan visi & misi program yang memprioritaskan pembangunan kesejahteraan
masyarakat dalam skala massal dan dalam jangka waktu yang singkat. Masyarakat
sebagai fokus utama proses pembangunan itu sendiri.
Business Model tersebut di atas juga dibangun dengan mempertimbangan tantangan-tantangan pembangunan yang dihadapi oleh wilayah kepulauan seperti Maluku, yang antara lain:
Tidak tersedianya sumber-sumber daya (resources) yang diperlukan (baik dalam bentuk materi, usaha/ industri pendukung, infrastruktur dan teknologi) untuk membangun suatu Rantai Nilai Industri yang lengkap yang dapat menciptakan suatu industri yang berdaya saing unggulan berkelanjutan;
Kondisi geografis wilayah kepulauan, dengan berbagai pulau, besar dan kecil, dengan jumlah penduduk yang seringkali tidak tersebar secara merata, memberikan dampak yang substansial pada besarnya kebutuhan transportasi, baik untuk memobilisasi manusia maupun barang sehingga cenderung menghasilkan ekonomi biaya tinggi;
Rendahnya tingkat kesiapan Sumber Daya Manusia di wilayah kepulauan dalam berpartisipasi ke dalam suatu program pembangunan yang menuntut terbangunnya kolaborasi lintas wilayah dan lintas institusi dengan menggunakan pendekatan dan pola pembangunan berkelanjutan;
Oleh karena itu diperlukan berbagai model, konsep dan strategi yang dapat menjawab tantangan tersebut.
Secara sistimatis proses pembangunan Business Model Program NEGERI MANDIRI mencakup aspek-aspek sebagai berikut:
1 Kerangka Pembangunan Klaster Industri Berbasis Masyarakat (KIBM) yang terdiri dari:
Model Pembanguan KIBM;
Methodologi Pembangunan KIBM;
2 Rantai Nilai Industri (Industry Value Chain) yang terdiri dari:
Rantai Nilai Industri;
Rantai Proses Pendukung;
3 Supply Chain & Operation Management, dikemas dalam Total Innovation Chains, yang terdiri dari:
Physical Supply Chain;
Financial Supply Chain;
Information Supply Chain;
Social Supply Chain;
4 Persaingan & Kemitraan Usaha;
5 Strategic Sourcing;
6 Jaringan Kolaborasi;